Bali Adventure - Bali Rafting, ATV Riding, Bali Cycyling, Watersport Tanjung Benoa, Cruise, Seawalker

RI Naikkan Kunjungan Wisman Asal Timteng Hingga 100%

Kategori Berita Bali

Indonesia optimis dapat meningkatkan  jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) asal kawasan Timur Tengah (Timteng)  hingga 100%, dari 55.236  pada tahun lalu menjadi  100.000 tahun 2010.   “Optimisme ini karena didukung para duta besar  kita di Timur Tengah, yang  tahun ini mereka ingin menaikkan target kunjungan wisman lebih besar,” kata Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar) Ir.Jero Wacik, SE ketika menerima para duta besar RI dari negara-negara Middle East di Gedung Sapta Pesona Jakarta, Rabu malam (10/2).

Kunjungan para dubes RI di Timteng ini dalam rangkaian mengikuti Raker Kementeri Luar Negeri (Kemlu) yang kemudian melanjutkan rapat dengan Menbudpar Jero Wacik beserta para pejabat Eselon I di antaranya Sekjen Wardiyatmo dan Dirjen Pemasaran DR. Sapta Nirwandar.

Dalam pertemuan tersebut diusulkan agar Kemenbudpar meningkatkan kegiatan promosi pariwisata serta mengadakan pegelaran budaya dalam upaya menarik kunjungan wisman Timur Tengah.  Selain itu diusulkan pula agar Kemenbudpar membuka perwakilan pariwisata (reprensentative office) di Dubai, Uni Emirat Arab dengan pertimbangan  lokasi kota tersebut sangat strategis. Saat ini Indonesia sudah memiliki agen rep office di sana, namun di masa mendatang dapat ditingkatkan.

Tahun ini di Timur Tengah akan digelar sejumlah  event pariwisata internasional antara lain  Arabian Tourism Mart (ATM) ,   Seyaha 2010 Abudhabi Holiday and Travel Show dan  Health  Tourism yang akan berlangsung pada Mei dan Oktober 2010. “Kita akan ikut pameran di ATM dan Abudhabi Travel Show di mana saat itu Indonesia akan mengadakan sales mission ke sana,” kata Sapta Nirwandar.

Kunjungan wisman dari Timteng tahun 2009 sebesar 55.236 wisman sebagian besar dari Saudi Arabia (38.311  orang)  , Iran (6.944 orang),  Yaman (3.123 orang)  dan Uni Emirates Arab (2.709 orang).  Sedangkan tahun 2010 target kunjungan wisman dari Saudi Arabia dan Iran dinaikkan masing-masing  sebesar 49.595 dan 9.143 orang. (Pusformas)

Sumber : http://www.budpar.go.id/page.php?ic=511&id=5261

Mendagri Resmikan Nama Ibukota Badung “Mangupura”

Kategori Berita Bali

Jumat, 12 Pebruari 2009 kemarin merupakan hari bersejarah bagi Pemerintah dan Masyarakat Kabupaten Badung, karena Badung kini telah memiliki nama Ibukota yakni “Mangupura” yang secara resmi penggunaan nama Ibukota Mangupura diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri (Mendagri) H. Gamawan Fauzi. Selain meresmikan nama Mangupura, Mendagri juga menyerahkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 67 tahun 2009 tentang Pemindahan Ibukota Kabupaten Badung dari Wilayah Kota Denpasar ke Wilayah Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Provinsi Bali kepada Bupati Badung A.A. Gde Agung S.H yang disaksikan Gubernur Bali Made Mangku Pastika dan Ketua DPRD Badung Drs. I Made Sumer, Apt. Acara peresmian tersebut berlangsung di lapangan Pusat Pemerintahan (Puspem) Badung, Mangupraja Mandala, Mangupura, Badung.

Penetapan nama Ibukota Badung sebetulnya telah ditetapkan 16 Nopember 2009 lalu oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono. Nama Mangupura memiliki arti kota yang menawan hati, tempat mencari keindahan, kedamaian dan kebahagian yang mendatangkan kesejahteraan serta menumbuhkan rasa aman bagi masyarakatnya. Sementara Ibukota Badung sesuai PP 67 tahun 2009 meliputi; sembilan Desa/Kelurahan di wilayah Kecamatan Mengwi diantaranya, Desa Mengwi, Desa Gulingan, Desa Mengwitani, Desa Kekeran, Kelurahn Kapal, Kelurahan Abianbase, Kelurahan Lukluk, Kelurahan Sempidi dan Kelurahan Sading.

Sebelum acara pokok, Mendagri dan Gubernur Bali melakukan penanaman pohon trembesi/suar di areal Puspem Badung. Setidaknya 1000 undangan hadir dalam acara tersebut baik dari unsur Pemerintahan Provinsi Bali, Kabupaten/Kota se-Bali maupun komponen masyarakat mulai dari Bendesa Adat, Pekaseh, sekaa-sekaa seni serta penglingsir puri. Hadir pula Dirjen Pemerintan Umum Depdagri Sutrisno.

Bupati Badung A.A. Gde Agung S.H dalam sambutannya mengatakan,  pembangunan Puspem Badung dilatarbelakangi proses pemekaran Kabupaten Badung menjadi dua wilayah yakni Kabupaten Badung dan Kodya Denpasar pada tahun 1992. Pemekaran tersebut secara faktual telah menyebabkan Daerah Administratif Kodya Denpasar saat itu terdapat dua Pusat Pemerintahan. Atas dasar tersebut ada pemikiran untuk memiliki sebuah Pusat Pemerintahan yang berada di wilayah Kabupaten Badung. Setelah didahului pembelian lahan, tahun 2007 Puspem Badung mulai dibangun diatas lahan 46,6 Ha. “Bulan April 2009 ini seluruh SKPD diharapkan akan berkantor di kompleks Puspem Badung ini, sehingga pelayanan kepada masyarakat Badung dapat ditingkatkan,” kata Bupati. Seiring proses pembangunan Puspem, maka awal tahun 2008 mulai proses penetapan wilayah ibukota dan nama ibukota Kabupaten Badung. Langkah tersebut diawali dengan penyerapan aspirasi masyarakat, pelaksanaan semiloka yang diprakarsai DPRD Badung, proses pengusulan nama ibukota kepada DPRD Badung. “Berdasarkan keputusan DPRD Badung, kami mengusulkan wilayah ibukota dan nama Mangupura kepada Gubernur Bali untuk diteruskan kepada Mendagri. Setelah melalui pembahasan maka akhirnya Presiden RI pada 16 Nopember 2009 menetapkan PP No. 67 tahun 2009,” terang Bupati.

Terbitnya PP tersebut sungguh merupakan peristiwa yang sangat bersejarah bagi pemerintah dan seluruh masyarakat Badung, karena sejak ditetapkannya PP tersebut secara yuridis formal Kabupaten Badung telah memiliki wilayah ibukota dan nama ibukota. “Atas nama Pemerintah, DPRD dan seluruh masyarakat Badung menghaturkan terima kasih yang mendalam dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Bapak Presiden RI, Bapak Mendagri dan Bapak Gubernur Bali yang telah memberikan dukungan dan turut menorehkan sejarah bagi Kabupaten Badung yang kami cintai,” kata Gde Agung.

Gubernur Bali Made Mangku Pastika merasa bergembira dan menyampaikan selamat dan terima kasih kepada Bupati dan DPRD Badung atas kesungguhan serta kerja kerasnya dalam mewujudkan Puspem. Hal ini juga menjadi harapan masyarakat Badung, untuk memiliki kota di wilayah kabupatennya sendiri. Dimana dengan keberadaan ibukota tersebut akan dapat mempermudah dan mempersingkat birokrasi antar pemerintah dan masyarakatnya dalam rangka memberikan pelayanan kepada masyarakat. “Peresmian nama Mangupura hendaknya di jadikan momentum bagi Pemerintah Kabupaten Badung dalam menjalankan roda pemerintahan dan pembangunan serta memberikan pelayanan yang optimal kepada masyarakat,” katanya.

Sementara Mendagri H. Gamawan Fauzi mengawali sambutannya mengatakan, sebelum berangkat ke Badung dipikirkan bahwa Puspem Badung itu bangunannya kecil. “Namun sampai di Badung, saya betul-betul merasa keliru memaknai karena belum ada sebuah Kabupaten punya gedung semegah dan secantik ini,” kata Mendagri. Disisi lain Mendagri mengatakan, Bali adalah satu-satunya Provinsi yang sangat kuat, mampu mempertahankan nilai-nilai lokalnya dalam pergaulan internasional yang sangat hebat ini.

Pada kesempatan itu, Mendagri juga memberikan apresiasi kepada Pemkab Badung dimana selama 5 tahun ini telah mampu mewujudkan Pusat Pemerintahan serta peningkatan PAD maupun APBD. Yang terpenting pesan dari Mendagri yakni keberhasilan pembangunan ini harus diimbangi dengan pelayanan yang semaksimal mungkin kepada masyarakat.

Setelah meresmikan nama Ibukota Badung Mangupura, Mendagri beserta rombongan meninjau sejumlah lokasi di Badung yang akan digunakan sebagai tempat pendukung World Culture Forum dan KTT APEC tahun 2013 mendatang seperti mengunjungi Garuda Wisnu Kencana, Bali Pecatu Graha dan Hotel Ayana (Ritz Calton). Mendagri juga sempat melakukan sholat jumat di Mesjid kompleks Puja Mandala, Nusa Dua.

Poltabes Sita DVD Porno di Sanur

Kategori Berita Bali

Poltabes Denpasar menggerebek sejumlah lokasi peredaran DVD porno di seputaran Sanur. Tidak banyak yang bisa disita dari rental tersebut, hanya 68 keping DVD porno dan 26 keping DVD semi porno.

Pengerebekan DVD porno ini dilakukan jajaran Poltabes Denpasar di sebuah rental DVD di Jalan Danau Tondano nomor 36 Sanur.

Pemilik rental, I Ketut Sujana (46) tidak berkutik setelah rental miliknya digerebek. Tersangka hanya mengikuti aturan dibawa ke Mako Poltabes Denpasar beserta barang bukti puluhan DVD semi dan porno.

Tersangka yang tinggal di Jalan Danau Tamblingan Gang 1 Sanur, dikenakan Undang undang perfilman.

Sebenarnya, peredaran DVD porno ini marak di wilayah Denpasar, Kuta dan sekitarnya. Hanya saja petugas dalam pilih kasih dalam penggerebekan.

Rental besar seperti halnya rental ZeeneMax, rental Sakura, sama sekali tidak terjamah tangan hukum. (spy)

Sumber : http://beritabali.com/index.php?reg=&kat=&s=news&id=201001120001

Peran Orari Dalam Penanggulangan Bencana

Kategori Berita Bali

Keberadaan ORARI Lokal dalam membantu setiap adanya bencana di Kota Denpasar amat besar peranannya. Untuk meningkatkan sumber daya yang dimiliki seiring dengan kemajuan tehnologi ORARI lokal Denpasar terus berupaya meningkatkan kualitas dan kwantitas layanan terutama dibidang informasi dan komunikasi. “Eksistensi ORARI diharapkan mampu memberikan kontribusi informasi secara optimal aktual, cepat, akurat, efektif, efisien kepada masyarakat, bersinergi dengan Pemerintah Kota Denpasar dalam upaya penanggulangan bencana daerah”. Demikian disampaikan Ketua ORARI Lokal Denpasar I Gusti Ngurah Agung, SH disela-sela perayaan ulang tahun ORARI Lokal Denpasar yang ke 16, Sabtu (12/12) kemarin di Lapangan Niti Praja Lumintang Denpasar.

Ketua ORARI Lokal Denpasar Ngurah Agung, didampingi Ketua panitia peringatan Made Mudra, sekretaris Drs Made Atmajaya, Koorlap Komang Panji, Bendahara Orari Putu Gede Himawan Saputra, SE, unsur Basarda Jero Alit Gde Ardana, menambahkaan, dirinya bersama segenap pengurus dan anggota selalu berupaya melakukan koordinasi serta menjalin kerjasama dengan semua pihak terutama antar anggota lokal, Propinsi maupun Pusat, yang tergabung dalam Satkorlak penanggulangan bencana daerah. Langkah ini adalah sebagai upaya antisipasi dini terhadap kemungkinan terjadinya bencana. “Mengingat Indonesia khususnya Bali, memiliki kondisi geografis, geologis, hidrologis dan demografis yang memungkinkan terjadinya bencana baik yang disebabkan oleh faktor alam, non alam, maupun faktor manusia, untuk mengantisipasi hal tersebut perlu adanya jaringan komunikasi yang kuat antar satuan bencana, ujarnya. Hal ini penting untuk mempercepat upaya antisipasi terhadap kejadian bencana yang bisa terjadi dimana saja dan sulit diprediksi keberadaannya.

Ngurah Agung juga menambahkan, ORARI lokal Denpasar didalam mengemas dan menyampaikan informasi kepada publik tetap mengacu pada prosedur atau aturan Orari yang ada. Untuk meningkatkan upaya pelayanan pihaknya juga telah mengadakan pelatihan-pelatihan dan memberikan bekal ketrampilan pada anggotanya agar kemampuan deteksi sinyal masing-masing anggota makin matang. Dari segi peralatan, pihaknya juga telah dilengkapi armada yang memadai seperti, kendaran roda empat, roda dua yang sudah dilengkapi dengan peralatan pancaran sinyal. Namun demikian pihaknya juga tetap mengharap peran masyarakat untuk membantu pelaksanan tugas-tugas dilapangan. Perayan ulang tahun juga diisi dengan kegiatan contes signal antar anggota ORARI. (Sidi)

Sumber : http://denpasarkota.go.id/main.php?act=news&kd=5509

Densel Juara Umum Utsawa Dharma Gita

Kategori Berita Bali

Denpasarkota.go.id - Denpasar, Lomba utsawa dharma gita yang dilaksanakan Pemerintah Kota Denpasar melalui Dinas Kebudayaan Kota Denpasar berlangsung 3 hari membawa Kecamatan Denpasar Selatan menjadi Juara Umum. Penyerahan piala bergilir dilkakukan oleh Sekkot Denpasar AA N Rai Iswara kepada Camat Denapasar Selatan IB Alit Wiradana didampaing Anggota DPRD Kota Denpasar, Sari Galung dan Kepala Dinas Kebudayaan Kota Denapar Ketut Mardika, di Balai Wantilan, Desa Pakraman Intaran, Sanur, Kecamatan Denpasar Selatan Minggu (22/11).
Kepala Dinas Kebudayaan Ketut Mardika disela-sela penutupan mengatakan pelaksanaan lomba utsawa telah berjalan dengan baik sesuai harapan. Kedepannya hasil pelaksanaan utsawa dharma selain menggali potensi yang ada, juga untuk mempersiapkan wakil-wakil kota Denpasar untuk even yang lebih tinggi. Lomba utsawa dharma gita diharapkan juga menjadi pelestarian budaya Bali untuk mendukung Denpasar Berwawasan Budaya yang kreatif berbasis budaya unggulan.
Sementara Ketua Panita penyelenggara Made Langgeng Buana menambahkan peserta lomba utsawa dharama gita telah berlangsung dengan baik, dan pesertanya mampu tampil lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. “Semua materi lomba sesuai dengan materi propinsi bisa diikuti oleh semua peserta dari empat kecamatan. Kita harapkan dengan hasil lomba ini Denpasar mampu mempertahankan sebagai yang terbaik dalam lomba utsawa tingkat propinsi mendatang,” ujar Langgeng Buana. Materi lomba meliputi sloka, palawakya, kekawin, macepat, kidung dan dharma wacana. Lebih lanjut Ia menambah lomba kali ini menggeser juara bertahan tahun lalu yaitu kecamatan Dentim yang saat ini menduduki urutan ke tiga dengan perolehan medali 4 emas, lima perak dan 4 perunggu.

Sedangkan juara umum diraih oleh Kecamatan Densel dengan perolehan medali 8 emas, 9 perak dan 3 perungu kemudian disusul Kecamatan Denbar denga perolehan medali 7 emas, 2 perak dan 6 perunggu. Dengan seringnya diselenggarakan lomba semacam ini, tentunya akan lebih meningkatkan kualitas para peserta. Disamping itu lomba utsawa dharma gita adalah untuk untuk mengembangkan sastra Agama Hindu, sehingga bisa dipahami oleh masyarakat sesuai dengan visi dan misi Kota Denpasar berwawasan budaya. Jenis utsawa dharma gita dilobakan adalah sloka, palawakia, kewkawin, macepat, kidung dan dharma wacana yang diikuti oleh anak-anak, remaja dan dewasa.(Gst)

Festival Pulau Serangan Berakhir Sukses

Kategori Berita Bali

Sebagai salah satu tujuan daerah wisata, Pulau Serangan yang dulu dikenal sebagai pusat penangkaran penyu disamping situs sejarah Pura Sakenan sejak digelarnya Festival Pesona Pulau Serangan makin menunjukkan pesonanya. “Saya harap semoga event seperti ini terus berlanjut agar potensi daerah kami bisa terangkat dan tidak tertinggal dengan daerah lainnya”, ungkap Jro Bendesa Serangan Made Mudana Wiguna Senin (16/11) saat ditemui di ruang kerjanya.

Jro Bendesa Mudana Wiguna lebih jauh mengatakan, kebangkitan masyarakatnya dalam menyambut event ini sangat dirasakan. Hal ini bisa dibuktikan baik menjelang digelarnya acara hingga berakhirnya acara semua pihak bekerja keras bahu-membahu untuk membangun daerahnya. “Kondisi ini tentu amat membanggakan bagi kami untuk menata dan membangun Serangan mulai saat ini hingga kedepan sebagai daerah tujuan wisata yang menjanjikan. Sebagai daerah yang memiliki potensi atau kekayaan bahari yang sangat potensial, dengan digelarnya kegiatan ini diharapkan potensi tersebut makin tergarap lebih baik dan mampu mengangkat kondisi perekonomian masyarakat sekitar, ujarnya semangat. Dia mencontohkan beberapa potensi bahari seperti kerajinan kerang, ikan hias termasuk kulinernya dengan kegiatan ini mulai terangkat bahkan mampu menjanjikan peluang pasar baik lokal maupun nasional apalagi ikan hiasnya sudah mampu menjadi komoditi ekspor terutama ke Negara Jepang mudah-mudahan yang lain bisa mengikuti, harapnya. Bahkan kuliner Serangan yang dulunya tidak pernah dilirik kini mulai terangkat ke permukaan seperti krupuk klejot, beragam bulung, ikan laut dengan sambal pedasnya dan lain-lain. Situasi ini tentu membuat citra Serangan semakin membaik baik bagi wisatawan lokal maupun internasional. Bahkan selama tiga hari digelarnya kuliner omset yang diperoleh mampu mencapai angka 45 juta rupiah, ini adalah awal yang baik, ujarnya.

Disamping itu dalam upaya penyelamatan dan pelestarian lingkungan pihaknya juga berbangga memiliki sosok I Wayan Patut seorang pelestari terumbu karang yang dengan getolnya terus mengkumandangkan pentingnya upaya pelestarian lingkungan. Upaya ini tentu membuat citra Pulau Serangan makin baik dan merupakan salah satu upaya untuk menepis anggapan bahwa masyarakat Serangan tidak hirau dengan lingkungan. Bayangkan dari 5 hektar yang ada 1,5 hektar sudah mampu ditanami terumbu karang. Untuk pelestarian hewan khususnya penyu pihaknya bekerjasama dengan Pemerintah Kota Denpasar dan Pengusaha juga melakukan pelepasan 100 tukik dan penyu ke perairan Serangan. Atas nama masyarakat Serangan, Mudana juga mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak terutama kepada Pemerintah Kota Denpasar atas segala upaya yang telah dilakukan. (Sdn)

Sumber : http://denpasarkota.go.id/main.php?act=news&kd=5432

Depbudpar dan Majalah Swa Selenggarakan ITA 2009

Kategori Berita Bali

Budpar.go.id - Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar) bekerjasama dengan Majalah Swa menyelenggarakan Indonesia Tourism Award (ITA) 2009 untuk mendorong daerah dan industri pariwisata meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.

Pemberian ITA  yang akan berlangsung pada 13 November 2009  berdasarkan hasil survei terhadap 1.625 responden di 25 kota di seluruh Indonesia dalam   menentukan pemenang terbaik atau The Most Favourite Tourism Industry berdasarkan 9 aspek penilaian.

‘Pemberian ITA 2009 kita harapkan dapat memacu daerah atau destinasi dan industri pariwisata untuk terus meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, ‘ kata DR.Sapta Nirwandar Dirjen Pemasaran Depbudpar  yang didampingi Pemimpin Redaksi Majalah Swa  Kemal Effendi Gani dalam konferensi pers tentang  rencana pemberikan penghargaan ITA 2009 di Gedung Sapta Pesona Jakarta, Jumat (6/11).

Sapta Nirwandar mengatakan,  kegiatan ITA 2009 itu baru pertama kali dilakukan untuk ini ke depan dibutuhkan masukan dan perbaikan dalam upaya menyempurnakan pelaksnaan tourism award tersebut.

Menurut Kemal Effendi Gani  survei telah dilakukan sejak Juli hingga awal Oktober 2009, “Ada 9 aspek penilaian untuk menentukan 9 katagori pemenang antara lain berdasarkan tingkat kepuasan responden yang kita jaring melalui kuesioner,” kata Kemal.

Sementara untuk menentukan 25 kota tersebut didasarkan pada  angka Pendapatan Regional Daerah (PRD) dari sektor pariwisata. Dari jumlah ini nantinya akan dipilih 10 kota terbaik (top ten). (Pusformas)

Lintasan Sejarah Kota Negara

Kategori Berita Bali

Jembranakab.go.id - Berdasarkan bukti-bukti arkeologis dapat di interprestasikan bahwa munculnya komunitas di Jembrana sejak 6000 tahun yang lalu. Dari perspektif semiotik, asal-usul nama tempat atau kawasan mengacu nama-nama fauna dan flora. Munculnya nama Jembrana berasal dari kawasan hutan belantara(Jimbar-Wana) yang dihuni raja ular(Naga-Raja). Sifat-sifat mitologis dari penyebutan nama-nama tempat telah mentradisi melalui cerita turun-temurun di kalangan penduduk. Berdasarkan cerita rakyat dan tradisi lisan(folklore) yang muncul telah memberi inspirasi di kalangan pembangun lembaga kekuasaan tradisional (raja dan kerajaan)

Raja dan pengikutnya yaitu rajyat yang berasal dari etnik Bali Hindu maupun dari etnik non Bali yang beragama Islam telah membangun kraton sebagai pusat pemerintahan yang diberi nama Puri Gede Jembrana pada awal abad XVII oleh I Gusti Made Yasa (penguasa Brangbang). Raja I yang memerintah di kraton (Puri) Gede Agung Jembrana adalah I Gusti Ngurah Jembrana. Selain kraton, diberikan pula rakyat pengikut(wadwa),busana kerajaan yang dilengkapi barang-barang pusaka berupa tombak dan tulup. Demikian pula keris pusaka yang diberi nama “Ki Tatas” untuk memperbesar kewibawaan kerajaan. Tercatat bahwa ada tiga orang raja yang berkuasa di pusat pemerintahan yaitu di Kraton (Puri) Agung Jembrana.

Sejak kekuasaan kerajaan dipegang oleh Raja Jembrana I Gusti Gede Seloka, Kraton (Puri) baru sebagai pusat pemerintahan dibangun. Kraton (Puri) yang dibangun itu diberi nama Puri Agung Negeri pada awal abad XIX. Kemudian lebih dikenal dengan nama Puri Agung Negara. Patut diketahui bahwa raja-raja yang memerintah di Kerajaan Jembrana berikutnya pun memusatkan birokrasi pemerintahannya di Kraton (Puri) Agung Negara. Patut dicatat pula bahwa ada dua periode birokrasi pemerintahan yang berpusat di Kraton (Puri) Agung Negara.

Periode pertama ditandai oleh birokrasi pemerintahan kerajaan tradisional yang berlangsung sampai tahun 1855. Telah tercatat pada lembaran dokumen arsip pemerintahan Gubernemen bahwa kerajaan Jembrana yang otonom diduduki oleh Raja Jembrana V (Sri Padoeka Ratoe) I Goesti Poetoe Ngoerah Djembrana (1839 - 1855). Ketika berlangsung pemerintahannya lah telah ditanda tangani piagam perjanjian persahabatan bilateral anatara pihak pemerintah kerajaan dengan pihak pemerintah Kolonial Hindia Belanda (Gubernemen) pada tanggal 30 Juni 1849.

Periode kedua selanjutnya digantikan oleh birokrasi modern, melalui tata pemerintahan daerah (Regentschap) yang merupakan bagian dari wilayah administratif Keresidenan Banyuwangi. Pemerintahan daerah Regentschap yang dikepalai oleh seorang kepala pribumi (Regent) sebagai pejabat yang dimasukkan dalam struktur birokrasi Kolonial Modern Gubernemen yang berpusat di Batavia. Status pemerintahan daerah (Regentschap) berlangsung selama 26 tahun (1856 - 1882).

Pada masa Kerajaan Jembrana VI I Gusti Ngurah Made Pasekan (1855 - 1866) mengalami dua peralihan status yaitu 1855 - 1862 sebagai Raja Jembrana dan 1862 - 1866 sebagai status Regent (Bupati) kedudukan kerajaan berada di Puri Pacekan Jembrana.

Ketika reorganisasi pemerintahan di daerah diberlakukan berdasarkan Staatblad Nomor 123 tahun 1882, maka untuk wilayah aadministratif Bali dan Lombok diberi status wilayah administratif Keresidenan tersendiri. Wilayah Keresidenan Bali dan LOmbok dibagi lagi menjadi dua daerah (Afdelingen) yaitu Afdeling Buleleng dan Afdeling Jembrana berdasarkan Staatblad Nomor 124 tahun 1882 dengan satu ibukota yaitu Singaraja. Selanjutnya daerah Afdeling Jembrana terbagi atas distrik-distrik yang pada waktu itu terdiri dari tiga distrik yaitu Distrik Negara, Distrik Jembrana, dan Distrik Mendoyo. Masing-masing distrik dikepalai oleh seorang Punggawa. Selain distrik juga diberlakukan jabatan Perbekel, khusus yang mengepalai komunitas Islam dan komunitas Timur Asing sebagai kondisi daerah yang unik dari sudut interaksi dan integrasi antar etnik dan antar umat beragama.

Sejak reorganisasi tahun 1882 telah ditetapkan dan disyahkan nama satu ibukota untuk Keresidenan Bali dan Lombok yaitu Singaraja, yang akan membawahi daerah-daerah (Afdeling) Buleleng dan Jembrana. Akan tetapi, pada proses waktu selanjutnya memperhatikan munculnya aspirasi masyarakat di dua daerah afdeling (Buleleng dan Jembrana), maka pihak Gubernemen menanggapi positif.

Respon positif pihak Gubernemen di Batavia dapat dibuktikan dengan diterbitkannya sebuah Lembaran Negara (Staatsblad) tersendiri untuk melakukan pembenahan (Reorganisasi) tata pemerintahan daerah di daerah-daerah (Afdeling) Buleleng dan Jembrana. Pihak Gubernemen dan segenap jajaran bawahan di Departemen Dalam Negeri (Binnenlandsch Bestuur) sangat memperhatikan dan mendukung sepenuhnya aspirasi masyarakat untuk menetapkan nama-nama ibukota Daerah-daerah Afdeling Buleleng dan Afdeling Jembrana. Pihak Gubernemen dalam pertimbangannya ingin mengakhiri kebiasaan yang menyebut nama Ibukota Afdeling Buleleng dan Jembrana di Keresidenan Bali dan Lombok dengan nama lebih dari satu. Semula ( Tahun 1882-1895) hanya diberlakukan satu nama Ibukota yaitu Singaraja untuk wilayah Keresidenan Bali dan Lombok yang membawahi Daerah-daerah Afdeling Buleleng dan Afdeling Jembrana. Sejak disetujui dan untuk kemudian, ditetapkanlah nama-nama Ibukota daerah tersendiri terhadap Afdeling Buleleng dan Afdeling Jembrana di Keresidenan Bali dan Lombok. Berdasarkan Staatsblad Van Nederlandsch - Indie Nomor 175 Tahun 1895, sampai seterusnya ditetapkanlah Singaraja dan Negara sebagai ibukota dari masing-masing Afdeling. Dengan demikian, sejak 15 Agustus 1895 berakhirlah nama satu ibu kota : Singaraja sebagai ibukota Keresidenan Bali dan Lombok yang membawahi Daerah-daerah Afdeling Buleleng dan Afdeling Jembrana. Sejak itu pula dimulailah nama-nama Ibukota : Singaraja untuk Keresidenan Bali dan Lombok dan Daerah bagiannya di Afdeling Buleleng, serta Negara untuk Daerah Bagian Afdeling Jembrana.

Munculnya nama-nama Jembrana dan Negara hingga sekarang, memiliki arti tersendiri dari perspektif historis. Rupanya nama-nama yang diwarisi itu telah dipahatkan pada lembaran sejarah di Daerah Jembrana sejak digunakan sebagai nama Kraton ( Puri ) yaitu Puri Gede / Agung Jembrana dan Puri Agung Negeri Negara. Oleh Karena Kraton atau Puri adalah pusat birokrasi pemerintahan kerajaan tradisional, maka dapat dikatakan bahwa Jembrana dan Negara merupakan Kraton-kraton (Puri) yang dibangun pada permulaan abad XVIII dan permulaan abad XIX adalah tipe kota-kota kerajaan yang bercorak Hinduistik. Jembrana sebagai sebuah kerajaan yang ikut mengisi lembaran sejarah delapan kerajaan (asta negara) di Bali.

Sejak 1 Juli 1938, Daerah (Afdeling, regentschap) Jembrana dan juga daerah-daerah afdeling (Onder-afdeling, regentschap) lainnya di Bali ditetapkan sebagai daerah-daerah swapraja (Zelfbestuurlandschapen) yang masing-masing dikepalai oleh Zelfbestuurder (Raja). Raja di Swapraja Jembrana ( Anak Agoeng Bagoes Negara ) dan Raja-raja di swapraja lainnya di seluruh Bali terlebih dahulu telah menyatakan kesetiaannya terhadap pemerintah Gubernemen.

Anak Agung Bagoes Negara memegang tampuk pemerintahan di swapraja Jembrana secara terus-menerus selama 29 tahun meskipun terjadi perubahan tatanegara dalam sistem pemerintahan. Kepemimpinannya di Jembrana berlangasung paling lama dibandingkan dengan kepemimpinan yang dipegang oleh pejabat-pejabat pelanjutnya.Selama kepemimpinannya pula, dua nama yaitu Jembrana dengan ibukotanya Negara senantiasa terpateri dalam lembaran sejarah pemerintah di Jembrana, baik dalan periode Pendudukan Jepang (Tahun 1943-1945), peiode Republik Indonesia yang hanya beberapa bulan(Tahun 1946-1950) maupun pada waktu kembali ke periode bentuk Negara Indonesia Timur(Tahun 1946-1950) maupun pada waktu kembali ke periode bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia(Tahun 1950-1958).

Jabatan Bupati Kepala Daerah Swatantra Tingkat II Jembrana untuk pertama kalinya dijabat oleh Ida Bagus Gede Dosther dari tahun 1959 sampai tahun 1967. Pada periode selanjutnya jabatan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Jembrana dijabat oleh Bupati Kapten R. Syafroni (Tahun 1967-1969); Pjs Bupati Drs. Putu Suasnawa (11 Maret - 30 Juni 1969); Bupati I Ketut Sirya (30 Juli 1969-31 Juli 1974); Pjs Bupati Drs. I Nyoman Tastra (31 Juli 1974 - 28 Juli 1975); Bupati Letkol. Liek Rochadi (28 Juli 1975 - 26 Agustus 1980); Bupati Drs. Ida Bagus Ardana (26 Agustus 1980 - 27 Agustus 1990); Bupati Ida Bagus Indugosa,S.H Selama dua kali masa jabatan (27 Agustus 1990 - 27 Agustus 1995 dan dari 27 Agustus 1995 - 27 Agustus 2000); Plt Bupati I Ketut Widjana, S.H (28 Agustus 2000 - 15 Nopember 2000) dan Prof.Dr.drg. I Gede Winasa menjabat sebagai Bupati Jembrana sejak 15 Nopember 2000 sampai saat ini.

Dapat dikatakan bahwa, sejak gelar “Bupati” yang mengepalai pemerintahan di Daerah Tingkat II Jembrana untuk pertama kali diberlakukan pada tahun 1959 sampai saat ini, nama “Negara” sebagai ibukota Daerah Kabupaten Jembrana tetap dilestarikan.

Momentum historis yang sungguh-sungguh terjadi itu sudah berlalu dan saat ini 15 Agustus 2002, “Negara” senagai ibukota Jembrana senantiasa terpatri dalam sejarah permerintahan di Jembrana.

Depbudpar Naikkan Target 7 Juta Wisman Tahun 2010

Kategori Berita Bali

Budpar.go.id - Indonesia akan menaikkan target kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) dari 6,5 juta wisman tahun ini menjadi sekitar 7 juta pada 2010, demikian dikatakan Direktur Jenderal Pemasaran Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar) DR. Sapta Nirwandar ketika rehat dalam round table discussion tentang kebijakan pemasaran tahun 2010 dengan stakeholder pariwisata di Balairung Gedung Sapta Pesona Jakarta, Selasa (13/10).

Dikatakan, kenaikkan  target kunjungan wisman 7 juta tahun 2010 itu setelah mempertimbangkan berbagai faktor diantaranya situasi global  yang semakin membaik serta kondisi dalam negeri yang kondusif baik dari sisi politik, ekonomi, sosial dan budaya.

Pertimbangan lain, kata Sapta, didasari oleh pertumbuhan positif pariwisata pada tahun ini sekitar 1%-2%,  sehingga target 6,5 juta hingga akhir Desember 2009 kemungkinan akan terlampaui.

“Pariwisata Indonesia merupakan satu dari sebagian kecil negara di kawasan Asia Pasifik yang sektor pariwisatanya tumbuh positif seperti halnya Malaysia dan Korea,” kata Sapta Nirwandar.

Di tengah lesunya pertumbuhan pariwisata Asia Pasifik, tercatat pada Januari-Agustus 2009, sektor pariwisata Indonesia tumbuh 1,38%  dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Depbudpar bersama stakeholder pariwisata menetapkan target jumlah kunjungan wisman dalam lima tahun mendatang adalah 7 juta wisman (tahun 2010), 7,7 juta wisman (tahun 2011), 8,5 juta wisman (tahun 2012,) 9,3 juta wisman (tahun 2013), dan 10,3 juta (tahun 2014). (Pusformas)

Lelang Domain Bali Motor

Kategori Jual Beli Domain

Lelang cepat untuk domain Bali Motor, www.balimotor.com. Harga dibuka Rp. 50 juta . Domain cocok untuk usaha showroom motor, motor club, rental bali motor dll.

Hubungi Bapak Made (081 236 124 950) untuk yang berminat.

Selanjutnya »